Apakah kita membatasi kemahakuasaan Allah?


Awalnya berangkat dari materi khotbah di salah satu gereja pada hari Minggu. Sebenarnya konteksnya bukan berbicara mengenai kemahakuasaan Allah, tetapi ntah kenapa yang masuk ke gw adalah hal ini.

Mayoritas kepercayaan bagi banyak orang sifatnya monoteisme, satu Allah, dengan kemampuan tak terbatas atau bisa disebut sebagai Yang Maha Kuasa. “Allah itu memiliki kuasa yang tidak terbatas, dapat melakukan apa saja bahkan yang tidak dibayangkan manusia.” Kurang lebih statement seperti itu yang sering kita dengar sebagai bentuk perwujudan iman percaya kita. Nah di tulisan kali ini gw coba jabarin pandangan gw mengenai kemahakuasaan Allah.

Gw coba mencari beberapa referensi ayat dari kitab suci sesuai kepercayaan iman gw, nah yang kurang lebih keluar adalah sebagai berikut:

  • Kejadian 18:14 “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?” Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang keluar dalam rangka meyakinkan manusia, dalam konteks ini adalah Abraham, agar percaya bahwa akan ada keturunan dari istrinya Sarah yang sudah bertahun-tahun tidak bisa memiliki Allah. Mungkin pembahasaan sehari-harinya jadi begini “Ha, apa? Lo ngga percaya kalau Allah lo ini maha kuasa dan bisa melakukan apapun?”
  • Wahyu 1:8 “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”Dalam konteks ini Allah kembali menyatakan bahwa tidak ada yg bisa membatasi kekuasaan Allah.

Yang menarik sekarang ini adalah bagaimana kemahakuasaan Allah ini dimengerti oleh orang-orang yang menyatakan dirinya bahwa mereka percaya dengan Allah. Pemahaman yang salah atau kurang tepat pastinya akan memberikan pergeseran terhadap makna kemahakuasaan. Berdasarkan analisa pribadi gw kondisi saat ini, kemahakuasaan ini sering kali mengalami perubahan makna dikarenakan dua hal, pemahaman KITAB SUCI dan pemahaman PEMUKA AGAMA. Pasti banyak yang akan berdebat mengenai kedua hal tersebut.

“Bro, gila lo, KITAB SUCI merubah makna kemahakuasaan Allah?” Sabar Bro, bukan Kitab Sucinya, tetapi pemahamannya. Buat gw pribadi Kitab Suci itu hanya sebagian dari deskripsi dari Allah yang kita percaya. Kitab Suci itu walaupun merupakan wahyu atau pun perkataan Tuhan, tetapi kontekstual ruang dan waktu tidak sepenuhnya tepat di segala kondisi. Kitab Suci itu bukan untuk disembah, Kitab Suci itu untuk memperkenalkan kita kepada Allah yang kita percayai. Kitab Suci itu menjadi penuntun bagaimana kita bisa memiliki hubungan yang intim dengan Allah kita. Bukan Kitab Sucinya, tetapi Allah lah yang paling utama. Simplenya gini, kemahakuasaan Allah seakan terbatas, bahwa untuk menciptakan bumi dan segala isinya dibutuhkan 7 hari, tapi pemahaman yang lebih luas lagi adalah bahwa sebenarnya jika Allah mau menciptakan dalam satu jam juga memungkinkan kok. Tetapi Allah menciptakan dalam 7 hari agar setiap hari tersebut bisa ada maknanya, Tuhan memperkenalkan yang namanya proses, persiapan, pelaksanaan dan segala sesuatunya.

Nah, yang ke dua ini juga seru. PEMUKA AGAMA, atau orang yang dianggap lebih mengerti mengenai Allah. Terkadang, karena orang tersebut sudah melalui pendidikan atau pengalaman pribadi merasa bahwa dirinya lebih mengerti segala-galanya. Parahnya, dalam kondisi tersebut banyak yang mengambil kesempatan untuk menyatakan dirinya adalah utusan/kiriman Tuhan dan meminta berfokus pada dirinya dibandingkan fokus kepada Tuhan. Namanya manusia itu terbatas, pemahaman terbatas, pengetahuan terbatas, eksekusi terbatas. Sama halnya dengan Kitab Suci, setiap makhluk yang ada tujuan mulianya adalah untuk menyembah Tuhan dan menjadi berkat untuk sesama. Menjadi berkat untuk sesama itu lah peranan manusia untuk memperkenalkan manusia lainnya kepada Allah.

Menarik. Sangat menarik. Semakin kita mendalami Kitab Suci kita akan semakin tau bagaimana Allah kita. Bagaimana Dia bertindak, bagaimana Dia memberikan apresiasi, bagaimana Dia menghukum. Tapi ternyata lebih dari pada itu. Kita ngga bisa hanya sekedar “TAU” tetapi kita harus “KENAL” Tuhan untuk bisa mengetahui kemahakuasaannya. Bagaimana kita mengenal Tuhan? Ya pastinya dengan kita berkomunikasi dengan Tuhan, kita berbicara dan kita mendengarkan. Keduanya memiliki keterikatan dan tidak bisa dipisahkan. Ketika kita mengenal Allah secara pribadi, barulah kita bisa melihat Allah yang memiliki kemahakuasaan lebih dari pada sekedar Kitab Suci maupun pemimpin agama.

Sekarang pertanyaannya, apakah Kitab Suci yang kita baca, dan ajaran yang kita dengar dari pemimpin agama tersebut malahan membatasi kemahakuasaan Allah?

Selamat mengenal Allah dan menikmati kemahakuasaan Allah.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s