#Notes – Gratisan


Pelan-pelan gw mulai turun tangga di salah satu bioskop di daerah Jaksel. Agak turun sedikit, gw pun belok kiri ngelewatin satu keluarga, bapak, ibu dan dua orang anak. Setelah itu baru ketemu tempat duduk gw dan istri.

Ngga lama setelah gw duduk, gw kemudian ngedenger kalau ada petugas security yang ngomong sama Bapak di keluarga tersebut. Sempat berargumen, kemudian memutuskan untuk melanjutkan argumen di atas. Memang sih pas gw masuk di pintu studio ada petugas yang keliatannya lagi sibuk manggilin security, ternyata untuk manggil orang ini.

Cuma sedikit kata-kata yang sempet gw denger, “Pak, bapak harus bayar tiketnya.” Kata petugas bioskop. Setelah suara agak besar bapak dan ibunya memutuskan untuk menyelesaikan di atas (yang prediksi gw bapak ibunya tetep ngebayar) Ngga lama pas film blum mulai tapi lagi iklan, istri gw bisikin bahwa keluarga di sebelah membeli tiket dengan menunjukan “kartu pengenal pembela negara”. Dan gw pun terheran-heran, apakah hal seperti ini sering terjadi, apa memang masih ada oknum2 seperti ini? Apa ada perlakuan spesial untuk “kalangan” ini? Baru sebentar mikir istri gw ngelanjutin “Barusan anaknya ngomong sama ibunya “Mah, emang “kartu pengenal pembela negara”nya Papa udah ngga mempan?”” Dan gw pun langsung shock ngedenger statement dari anak tersebut.

Di jaman yang udah modern ini, saat orang-orang mendidik anak2nya dengan baik, tapi ada juga orang tua yang mendidik anaknya dengan doktrin-doktrin yang menurut gw ngga bener. Dalam bayangan gw, langsung lah tergambar bagaimana orang tuanya “mengagung-agungkan” profesinya ke anak2nya. Bahkan pasti ada statement dari orang tua yang menyatakan bahwa kartu pengenal tersebut bisa digunakan untuk banyak hal, termasuk membayar. Apakah bapak itu mengajarkan hal yang benar untuk anaknya? Ngga abis pikir.

Terus lanjutannya apa kalau si bapak pernah cerita tentang hal tersebut ke anaknya? Mungkin bukan sekali ini aja kartu tersebut pernah digunain, mungkin sebelumnya pernah berhasil untuk “membayar” yang lainnya. Anak itu akan datang ke sekolah dan ngebanggain papanya, terutama “kartu pengenal” papanya untuk membayar banyak hal. Dan semua anak pun menganggap hal tersebut menjadi hal yang keren. Salah kaprah.

Ngga berenti sampe di situ. Gw pun ngga abis pikir, ini bapak sama ibunya kok ngajak anak di bawah umur utk nonton The Expendables 2 yang jelas-jelas ditulis di meja pembelian tiket bahwa film ini untuk orang dewasa. Apa karena bapaknya pikir keren isinya tembak2an trus ngajak anaknya nonton? Mungkin nanti bapaknya juga cerita dengan kerennya kalau kerjaannya kayak gitu. :p

Akhirnya gw pun memutuskan untuk menikmati film tersebut dan memikirkan lanjutan drama malem itu. Setelah nonton gw pun balik. Dan pas balik istri gw pun ngasih tau gongnya bahwa ibunya ketika ditanya sama anaknya “Mah, emangnya kartu papa ngga mempan yah? Trus jadi bayar dong?” Dan si ibu pun ngomong dengan nada kesel “Iyahlah Mama bayar aja, daripada tu orang banyak cing cong!” Parahhhh… Ngga bapak ngga ibu didikannya seperti itu.

Mudah2an apa yang gw liat ini bukan cerminan didikan mayoritas orang di Indonesia. Mudah2an. Jadilah diri elo sendiri, jika ingin ada orang yang suka/mengagumi elo, biarlah mereka mengagumi pribadi elo, bukan “tambahan-tambahan” yang nempel sama diri elo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s