#Notes – Setting up Your Purpose


Sekitar sepuluh tahun yang lalu, Saya pernah mendapatkan nasihat yang hingga kini masih terus menjadi pedoman Saya dalam menentukan tujuan-tujuan Saya. Ketika itu Saya baru saja lulus SMA dan sedang mencari perguruan tinggi, Saya mencoba untuk mendiskusikannya dengan beberapa orang yang Saya anggap lebih dewasa dan sudah mengenyam pendidikan. Satu hal yang Saya dapatkan bukanlah rekomendasi universitas yang terbaik, melainkan Saya diminta berpikir ulang untuk menentukan tujuan Saya.

Dalam diskusi, Saya diminta untuk memikirkan tujuan Saya 30 tahun ke depan. Whoa, Saya yang baru lulus SMA langsung bingung… Baru lulus SMA diminta untuk memikirkan 30 tahun ke depan, yang artinya ketika saya berumur 48. Tetapi kemudian Saya mencoba untuk menjawabnya bahwa saya ingin punya kehidupan yang berkecukupan, punya rumah, mobil dan lain-lain, hal-hal umum yang diingikan orang-orang. Dalam hati Saya berpikir, wah pasti jawaban ini akan mengagumkan.

Ternyata tidak sampai di situ… Pertanyaan masih berlanjut setelah Saya menjawab. Sekarang lebih parah lagi, Saya diminta berpikir untuk tujuan Saya kalau saja ternyata umur Saya hanya sampai 48 tahun. Saya pun kembali memikirkan tujuan Saya. Untuk pertanyaan ini menjadi lebih sulit, karena ekspektasi Saya memang bisa berumur lebih dari 50 tahun, tetapi kalau ternyata 48 tahun, Saya harus mulai memilih mana yang prioritas dan harus Saya lakukan. Saya pun kembali menjawab, bahwa Saya ingin punya keluarga, punya istri, anak, dan hal-hal lainnya.

Saya dalam hati berpikir keras, kenapa harus pertanyaannya seperti itu, apa hubungannya dengan Saya yang mencari tempat kuliah? Kembali orang tersebut bertanya, kalau ternyata umur Saya cuma sampai 25 tahun, apa tujuan kamu. Saya pun mulai panik, apa yang bisa Saya lakukan hingga Saya berumur 25 tahun? Punya rumah? Kelihatannya tidak mungkin punya rumah dan mobil seumur 25. Punya keluarga istri dan anak? Lebih ngga mungin lagi… Jadi saya mulai mengerucutkan tujuan-tujuan Saya. hanya sebatas lulus studi dan mencari pekerjaan. Saya mencoba berpikir lebih keras lagi, apa yang bisa Saya hasilkan… Ternyata di titik itu saya mulai berpikir, dalam umur sependek ini Saya masih bisa berbuat baik untuk orang-orang di sekitar. Jadi muncullah pernyataan tersebut sebagai jawaban.

Pertanyaan terakhirpun akhirnya dilontarkan ke Saya. Bagaimana kalau umur Saya tinggal sehari lagi. Apa tujuan Saya? Saya pun terdiam, berpikir, bia benar-benar saya punya umur tinggal satu hari lagi. apa yang bisa Saya lakukan. Semua hal-hal dan tujuan-tujuan jangka panjang pun hilang. Kelihatannya menjadi tidak berarti. 24 jam akan berlalu begitu cepat dengan hal-hal yang tidak penting. Saat itu baru Saya sadar ada dua hal yang dapat Saya lakukan dalam 24 jam. Pertama adalah memiliki iman kepada sang Pencipta, dan yang ke dua adalah untuk berbuat baik terhadap sesama. Bukankah dua hal tersebut merupakan elemen penting dalam kehidupan kita. Umur tidak ada yang tahu. Kita sendiri pun tidak bisa memperpanjang umur kita. yang bisa kita lakukan adalah melakukan hal-hal yang berguna, baik untuk orang lain mau pun untuk kita sendiri.

Sekarang Saya pun tau apa yang harus Saya lakukan ketika Saya menyusun seluruh rencana-rencana Saya. (1) Beriman (2) Berbuat baik. Sesimple itu. Taruh dua hal tersebut dalam segala sesuatu yang kita lakukan.

Thanks Om Didi untuk nasihat 14 tahun yang lalu. 🙂

“Memento Mori” – Ingatlah kematian.

@jon_da

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s