#Marketing – Street Marketing


Berikut kutipan dari website Mas Agung Kurniawan, thanks untuk sharingnya:

http://agungkurniawan.com/2011/11/12/marketing-no-budget-ala-street-smart/

Masalah utama yang umum ditemui pebisnis dalam menjalankan usahanya adalah kurangnya penjualan.

Adakah kira-kira pemecahan yang tidak membutuhkan biaya besar bahkan tidak berbiaya sama sekali? Yang tidak perlu mengikuti filosofi sukses berbisnis yakni be the firstbe the best dan be different? Ada lho ternyata, saya ceritakan dalam kisah nyata yang saya alami sendiri ya.
Pak Firman, merupakan orang yang ke-ratusan juta atau bahkan mungkin ke-semilyar yang membuat usaha bubur ayam. Jenis usaha yang sangat common dan cara menjajakan yang juga sama common nya dengan usaha bubur ayam yang lain. Beliau ini jualan di Jl. PHH Mustofa bersebelahan dengan Surapati Core (Sucore) Bandung. Pesaing terdekat bubur ayam Pak Firman adalah pedagang bubur ayam lain yang hanya berjarak 100 meter dari gerobaknya. Oh ya, Pak Firman baru memulai usaha ini 2 bulan sebelum lebaran Idul Fitri kemarin. Sementara pesaing terdekatnya jauh lebih lama dari itu. Sangat logis jika pesaing terdekat Pak Firman pelanggannya lebih banyak, karna lebih dulu eksis dan dikenal masyarakat disana. Tapi yang justru terjadi adalah usahanya lebih laris manis dibanding pesaiang terdahulu bahkan sedari awal ia memulai. Padahal rasa bubur ayam keduanya tidaklah jauh berbeda. Harga pun hampir sama.
Ini dia kunci sukses pak Firman. Ia selalu menyambut calon pelanggannya dengan senyuman lebar tulus dan obrolan PDKT yang mengalir hangat (1). Bukan sekedar basa-basi yang basi. Dari awal pertemuan kami sudah bisa cerita macam-macam dan ketawa-ketiwi bersama. Ia kenal semua pelanggannya(2). Waw hebat. Bahkan beliau sangat senang memperkenalkan antara satu pelanggan dengan pelanggan yang lain(3). Saya dikenalkan dengan orang yang ternyata deket rumah dan sama-sama baru punya anak. Bertambah teman deh..Beliau juga sering terlihat ikut mengobrol dengan para pelanggan. Saya yang sangat senang dengan keramahtamahan beliau, obrolan beliau yang bukan sekedar basa-basi yang basi, membuat saya menjadi loyal tidak peduli harus membayar berapa untuk semangkok bubur ayam buatannya.
Saat saya bertanya: “Kenapa pak, jualan bubur?”. Jawabannya sangatlah sederhana: “Ya, karna saya seneng banget makan bubur ayam.” sambil tersenyum girang(4). Ia senang dengan apa yang ia jalani. Ia mengejawantahkannya dalam perilaku yang menyenangkan pelanggannya secara langsung. Ia bahkan rela berlari-lari girang seperti anak-anak mengantarkan sendiri pesanan bubur ayam ke pelanggan (5) yang menunggu di mobil-mobil mereka, tidak ketinggalan dengan ketawa ramahnya. Sekarang dagangan beliau jadi cepat habis dan diburu. Makin pagi datang makin baik kalau tidak mau kehabisan. Pelanggannya sekarang banyak yang bermobil padahal tempatnya tidak menggunakan sejenis kanopi (atap) gitu, alias kalau panas ya panas. Hebat.
Mudah ya, so simpleso easy. Pak Firman meningkatkan sales produknya tanpa uang dengan hasil yang luar biasa. Saya jadi berkaca pada diri sendiri, pada bisnis sendiri. Yang diisi oleh SDM yang pendidikannya lebih baik tapi cepat puas dengan pelayanan rata-rata yang diberikan. Thanks Pak Firman for the inspiration:) .
Bagaimana implementasi dalam sebuah bisnis yang lebih besar?
  1. senyuman lebar tulus dan obrolan PDKT yang mengalir hangat. Banyak perusahaan atau bahkan penjual yang terlalu serius untuk mengejar target penjualan tanpa mempedulikan pelanggan yang sudah ada, bahkan untuk tersenyum ke pelanggan pun sampai lupa. Komunikasi perlu dibangun dengan pelanggan, bisa dalam bentuk komunikasi tatap muka ataupun yang menggunakan media. Forum internet, media sosial di Internet sekarang ini sudah bisa dijadikan media untuk bisa berhubungan dengan pelanggan. Coba buat topik yang menarik mengenai kejadian-kejadian terkini yang tentunya merupakan hal-hal yang menarik bagi pelanggan, tapi jangan lupa walaupun melalui media, tetap tunjukan senyuman lebar yang tulus. 🙂
  2. Ia kenal semua pelanggannya. Database pelanggan untuk setiap perusahaan adalah hal yang penting, tidak hanya nama, alamat, dan data umum saja yang dikumpulkan, tetapi juga hal-hal yang sifatnya unik per individu, baik itu hobby, kegiatan, dll. Account sosial media sebenarnya bisa menjadi salah satu media untuk memantau aktivitas pelanggan.
  3. memperkenalkan antara satu pelanggan dengan pelanggan yang lain. Nah, untuk urusan yang ini banyak perusahaan yang masih sering lupa kalau pelanggan pun ternyata punya kebutuhan untuk sosialisasi. Perusahaan biasanya memberikan perhatian hanya kepada individunya tetapi bukan ke interaksi antar individu yang nantinya akan menghasilkan komunitas. Inisiatif memperkenalkan bisa dilakukan oleh perusahaan, ataupun terbentuk dengan sendirinya asalkan perusahaan menyediakan medianya. Sama seperti tukang bubur yang menyediakan tempat untuk bersosialisasi dan jugaaktif mengenalkan, perusahaan seharusnya juga bisa melakukan hal sama.
  4. “Ya, karna saya seneng banget makan bubur ayam.” sambil tersenyum girang. Kenapa kamu kerja di perusahaan A? Karena gajinya gede, fasilitasnya oke, kantornya bagus, semuanya terjamin. Apa benar perusahaan ingin pegawainya menjawab seperti itu ketika ditanya oleh pelanggannya? Perusahaan harus peka, komunikasi ke luar dari pegawai harus punya message yang sama. Pegawai yang puas akan tercermin pada pelanggannya. Kebanggaan ini meruapakan PR bagian HR. Gimana caranya supaya pegawai bisa bangga terhadap pekerjaannya.
  5. Ia bahkan rela berlari-lari girang seperti anak-anak mengantarkan sendiri pesanan bubur ayam ke pelanggan. Tidak cukup diam di tempat dan memanggil pelanggan untuk datang, tidak cukup untuk berjalan pelan ke pelanggan. Lari-lari girang adalah kata yang tepat. Antusiasme pada saat mengantarkan produk atau pun jasa memang menggambarkan bagaimana perusahaan tersebut dikelola. Tidak cukup untuk biasa saja, tetapi harus luar biasa. Walaupun begitu, tetap kuncinya adalah dipegawainya.

Saya rasa lima poin ini bukan hal yang baru. Pasti banyak dari yang membaca sudah pernah mendapatkannya, jadi Saya hanya mengingatkan kembali saja. Selamat ber-marketing ria.

@jon_da

Advertisements

2 thoughts on “#Marketing – Street Marketing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s